DARI KAMPUS KE MENTAWAI, DOSEN KIMIA UNDIP LIBATKAN MAHASISWA TERAPKAN ILMU MATERIAL BAGI NELAYAN

MENTAWAI, SUMATERA BARAT – Pengabdian kepada masyarakat menjadi salah satu ruang bagi dosen untuk membawa keilmuan yang dikembangkan di perguruan tinggi lebih dekat dengan persoalan nyata di masyarakat. Hal tersebut dilakukan Nor Basid Adiwibawa Prasetya, S.Si., M.Sc., Ph.D., dosen Departemen Kimia Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro, melalui keterlibatannya dalam Program Pengabdian Masyarakat Kolaborasi Indonesia (PMKI) 2026 di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, tepatnya di Desa Muara Sikabaluan, Kecamatan Siberut Utara dan Dusun Labuan Bajau Utara dan Dusu Labuan Bajau Selatan, Desa Sigapokna, Kecamatan Siberut Barat, Kabupaten Kepulauan Mentawai, dan diikuti sekitar 60 nelayan dari dua lokasi tersebut.

 

Pengabdian ke Perwakilan Kelompok Nelayan Desa Muara Sikabaluan, Kec Siberut Utara (kiri) dan Desa Sigapokna, Kec Siberut Barat (kanan), Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat

 

Dalam kegiatan yang berlangsung pada 11–12 Agustus 2026 tersebut, Dr. Nor Basid terlibat bersama tim dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Airlangga (UNAIR) dalam penerapan teknologi Cold Storage Box Portabel berbasis Phase Change Material (PCM) dan PCM-Hydrogel Pack untuk membantu nelayan menjaga mutu hasil tangkapan.

Tidak datang sendiri, Dr. Nor Basid juga melibatkan dua mahasiswa Departemen Kimia UNDIP angkatan 2024, Muhammad Yusuf dan Syerafina Caesari Putrie. Keduanya ikut dalam rangkaian kegiatan, mulai dari persiapan alat dan bahan hingga pendampingan masyarakat selama praktik pembuatan komponen pendingin.

Ilmu Material Dibawa ke Persoalan Nyata

Teknologi yang diperkenalkan menggunakan panel PCM dan PCM-Hydrogel Pack sebagai media penyimpan energi termal untuk membantu mempertahankan suhu di dalam cold storage box. Penggunaannya diarahkan untuk membantu menjaga kondisi dingin lebih lama sehingga mutu ikan dapat lebih terjaga selama penyimpanan dan distribusi.

Produk cold storage box (kiri) dan PCM-Hydrogel Pack (kanan)

 

Bagi Dr. Nor Basid, kegiatan tersebut menunjukkan bahwa keilmuan kimia, khususnya yang berkaitan dengan material, dapat diterapkan dalam persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat.

“Selama ini di kampus kita banyak berbicara mengenai sifat material, kemampuan menyimpan energi, kestabilan, atau bagaimana suatu material dapat difungsikan. Di Mentawai, konsep-konsep tersebut bertemu langsung dengan kebutuhan masyarakat, yaitu bagaimana menjaga hasil tangkapan tetap dalam kondisi baik,” ujar Dr. Nor Basid.

Menurutnya, tantangan dalam pengabdian bukan hanya memastikan suatu material memiliki fungsi yang baik, tetapi juga bagaimana teknologi tersebut dapat diterapkan dengan cara yang sesuai dengan kondisi pengguna. Karena itu, nelayan tidak hanya diperkenalkan pada cold storage box sebagai produk jadi. Peserta juga mengikuti demonstrasi dan mencoba langsung proses pembuatan panel PCM dan PCM-Hydrogel Pack.

“Bagi kami, bagian menariknya justru ketika ilmu yang biasanya dibahas di laboratorium harus diterjemahkan menjadi sesuatu yang mudah dipahami masyarakat. Di situ dosen maupun mahasiswa belajar melihat ilmu kimia dari sisi yang berbeda,” jelasnya.

Mahasiswa Dilibatkan Sejak Awal

Keterlibatan Muhammad Yusuf dan Syerafina Caesari Putrie, mahasiswa Departemen Kimia UNDIP angkatan 2024, menjadi bagian dari upaya agar mahasiswa memperoleh pengalaman menerapkan pengetahuan di luar ruang kuliah dan laboratorium. Bersama mahasiswa dari perguruan tinggi mitra, keduanya terlibat mulai dari persiapan alat dan bahan hingga mendampingi nelayan dalam praktik pembuatan panel PCM dan PCM-Hydrogel Pack.

Bagi Yusuf, kegiatan di Mentawai memberi pengalaman yang berbeda karena ia dapat melihat secara langsung bagaimana ilmu yang dipelajari di kampus digunakan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

“Selama kuliah kami banyak belajar konsep dan melakukan praktikum di laboratorium. Di Mentawai saya bisa melihat bahwa material yang kami pelajari ternyata dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang manfaatnya langsung dirasakan masyarakat. Pengalaman seperti ini membuat saya melihat ilmu kimia dari perspektif yang lebih luas,” ujar Yusuf.

Sementara itu, Syerafina menilai interaksi langsung dengan masyarakat menjadi bagian yang paling berkesan selama kegiatan. Menurutnya, menjelaskan teknologi kepada masyarakat membutuhkan pendekatan yang berbeda dibandingkan ketika berdiskusi di lingkungan kampus.

“Kami belajar bahwa memahami konsep saja belum cukup. Ketika mendampingi masyarakat, kami harus bisa menjelaskan prosesnya dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Dari situ saya merasa belajar bukan hanya tentang kimianya, tetapi juga bagaimana menyampaikan ilmu agar benar-benar bisa digunakan,” kata Syerafina.

Kegiatan tersebut juga memberi kesempatan kepada kedua mahasiswa untuk bekerja bersama mahasiswa dari Magister Teknologi Nano ITB dan Rekayasa Nanoteknologi UNAIR. Perbedaan latar belakang keilmuan membuat mereka terbiasa berdiskusi dan melihat satu persoalan dari beberapa sudut pandang.

Menurut Dr. Nor Basid, pengalaman seperti ini penting diberikan kepada mahasiswa sejak awal masa studinya.

“Mahasiswa biasanya melihat material dari sisi teori dan praktikum. Ketika turun langsung ke masyarakat, mereka mulai melihat siapa yang akan menggunakan teknologi tersebut, kondisi seperti apa yang dihadapi pengguna, dan mengapa sebuah teknologi perlu disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan,” jelasnya.

Bagi Yusuf dan Syerafina, perjalanan ke Mentawai pada akhirnya bukan hanya kesempatan mengikuti kegiatan pengabdian, tetapi juga pengalaman awal untuk melihat bagaimana peran seorang mahasiswa kimia dapat melampaui kegiatan di ruang kuliah dan laboratorium.

Pemaparan dan penjelasan mengenai apa itu dan bagaimana proses pembuatan cold storage box dan PCM-Hydrogel Pack

Kolaborasi Tiga Perguruan Tinggi

PMKI 2026 merupakan program kolaborasi antara ITB, UNDIP, dan UNAIR. Kegiatan dipimpin oleh Dr. Damar Rastri Adhika, S.T., M.Sc. dari ITB, bersama Nor Basid Adiwibawa Prasetya, S.Si., M.Sc., Ph.D. dari UNDIP dan Dr. Suhailah, S.Si., M.Si. dari UNAIR, serta melibatkan mahasiswa dari Teknologi Nano ITB, Kimia UNDIP, dan Rekayasa Nanoteknologi UNAIR. Kolaborasi lintas bidang tersebut memungkinkan teknologi dikembangkan dan diterapkan dari berbagai sisi, mulai dari material hingga penggunaan di lapangan.

Sebagai bagian dari keberlanjutan program, tim juga menyerahkan cold storage box beserta bahan dan perlengkapan pendukung kepada perwakilan masyarakat agar teknologi yang telah diperkenalkan dapat terus dimanfaatkan setelah kegiatan selesai.

Bagi Departemen Kimia UNDIP, keterlibatan dosen dan mahasiswa dalam PMKI 2026 menunjukkan hubungan yang erat antara pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat. Keilmuan yang dikembangkan oleh dosen tidak hanya diterapkan untuk membantu menjawab persoalan masyarakat, tetapi sekaligus menjadi ruang belajar bagi mahasiswa yang dilibatkan di dalamnya.

Dari kegiatan di Mentawai, mahasiswa dapat melihat langsung bahwa ilmu kimia bukan hanya tentang memahami material, reaksi, dan karakterisasinya, tetapi juga tentang bagaimana pengetahuan tersebut dapat diterjemahkan menjadi sesuatu yang berguna bagi masyarakat.