“Mustahil bagi seseorang yang ingin menjadi hebat dan sukses di dunia juga di akhirat, tanpa mendapatkan ujian-ujian hebat pula dari Allah Ta’ala.”
Di balik setiap pencapaian besar, selalu ada kisah perjuangan yang jarang diketahui orang lain. Ada malam-malam panjang yang dipenuhi air mata, rasa lelah yang menyesakkan dada, hingga doa-doa sunyi yang hanya didengar oleh langit.
Kisah itulah yang menggambarkan perjalanan seorang pemuda asal Indonesia bernama Bryant Andhika Prayoga.
Belajar Bertahan di Tengah Ujian
Bagi banyak orang, kesuksesan identik dengan tepuk tangan, panggung megah, sorotan lampu, dan penghargaan bergengsi. Namun bagi Bryant, ujian terbesar dalam hidup justru hadir ketika dirinya sendirian.
Saat tidak ada yang mendengar tangisnya.
Saat tubuh dan pikirannya lelah.
Saat harus tetap tersenyum di tengah hinaan, kekecewaan, dan perlakuan tidak adil.
Di titik-titik paling rapuh itulah, Bryant merasa bahwa Allah sedang memeluk dirinya paling erat.
Perjalanan spiritual dan perjuangan akademik berjalan beriringan. Ia percaya bahwa ilmu bukan sekadar tentang gelar atau prestasi, tetapi tentang bagaimana manusia semakin dekat kepada Tuhannya dan membawa manfaat bagi sesama.
Menjadi Mahasiswa Berprestasi Nasional
Pada Mei 2025, Bryant berhasil menyelesaikan sidang skripsinya di Laboratorium Biokimia Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro dengan hasil yang membanggakan.
Beberapa capaian akademiknya antara lain:
- Nilai skripsi: 86,32 (A)
- IPK: 3,90
- Total SKS: 151 SKS
- Mahasiswa Berprestasi 1 Utama Universitas Diponegoro 2024
- TOP 4 Mahasiswa Berprestasi Se-Jawa Tengah
- Juara 3 Mahasiswa Berprestasi Nasional Republik Indonesia 2024
Prestasi tersebut diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia bersama Pusat Prestasi Nasional dan BPTI.
Namun perjalanan Bryant tidak berhenti di sana.
Menjelajah Dunia dengan Ilmu dan Beasiswa
Sejak masih menjadi mahasiswa S1, Bryant aktif membangun kapasitas dirinya sebagai peneliti muda.
Ia pernah menempuh studi selama satu semester di Universiti Malaysia Sabah dan menjadi awardee Future Research Talent di Research School of Chemistry, The Australian National University dengan beasiswa penuh.
Sebelum lulus sarjana, Bryant telah menjelajahi hampir 13 negara di 3 benua untuk kegiatan riset, kompetisi, dan pengembangan akademik.
Total sponsor dan beasiswa yang berhasil diperolehnya mencapai lebih dari 27.000 USD atau setara lebih dari Rp444 juta.
Tak hanya itu, ia juga berhasil:
- Memiliki karya HAKI dan merek
- Mempublikasikan artikel ilmiah terindeks Scopus
- Menjadi pembicara di berbagai forum nasional dan internasional
- Aktif melakukan riset dan kolaborasi global
Semua itu dibangun bukan dalam satu malam, melainkan melalui konsistensi bertahun-tahun.
Dilema Masa Depan: S2, S3, atau Bekerja?
Setelah lulus dari Universitas Diponegoro, Bryant dihadapkan pada pertanyaan besar:
Haruskah melanjutkan S2? Langsung mengambil S3? Atau bekerja terlebih dahulu?
Ketiga pilihan itu memiliki satu kesamaan: semuanya ingin ia jalani di luar negeri.
Bryant percaya bahwa ilmu pengetahuan dan dakwah bisa berjalan bersama. Baginya, perjalanan ke luar negeri bukan hanya tentang karier atau fasilitas hidup, tetapi juga tentang membawa nilai-nilai Islam kepada dunia.
Ia ingin menjadi ilmuwan yang tetap menjaga adzan, dakwah, dan nilai keislaman di tengah negara-negara minoritas muslim.
Tawaran dari Kampus-Kampus Dunia
Berkat kerja keras dan doa panjang, Bryant mendapatkan berbagai tawaran studi dan riset dari universitas-universitas ternama dunia.
Beberapa di antaranya:
- University of New South Wales
- University of Sydney
- University of Glasgow
- Wageningen University & Research
- Hokkaido University
Ia juga mendapatkan kesempatan pemilihan supervisor untuk studi doktoral di University of Oxford, serta peluang studi di Imperial College London dan University of Vienna.
Meski begitu, Bryant merasa dirinya masih ingin mengeksplorasi banyak cabang ilmu sebelum benar-benar fokus pada satu bidang spesifik dalam studi doktoral.
Karena itu, ia memilih untuk bekerja terlebih dahulu.
Menjadi Ilmuwan di Jepang
Saat ini Bryant bekerja di Faculty of Engineering, Hokkaido University sebagai Academic Researcher.
Riset yang dikerjakannya berfokus pada sintesis material untuk penyimpanan kalor laten atau thermal energy storage.
Laboratoriumnya juga bekerja sama dengan berbagai perusahaan besar di Jepang dalam pengembangan teknologi material dan energi.
Bagi Bryant, bekerja sebagai peneliti di luar negeri bukan akhir perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar.
Ia ingin membuktikan bahwa anak muda Indonesia mampu bersaing di level global tanpa kehilangan identitas, akhlak, dan nilai spiritualnya.
Rahasia di Balik Perjalanan Besar
Bryant menekankan bahwa keberhasilan tidak datang secara instan.
Sejak awal kuliah, ia telah mempersiapkan:
- Kemampuan bahasa Inggris
- Dokumen akademik internasional
- Pengalaman organisasi
- Publikasi ilmiah
- Kompetisi dan riset
- Persiapan IELTS
Menurutnya, banyak sumber belajar gratis yang dapat dimanfaatkan, termasuk melalui platform online seperti YouTube.
Ia juga mengingatkan bahwa kuliah atau bekerja di luar negeri bukan sekadar tentang gaya hidup atau perjalanan wisata.
Yang paling penting adalah kualitas diri, integritas, dan kemampuan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Membawa Dakwah dan Ilmu untuk Dunia
Di tengah pencapaian akademik dan karier internasionalnya, Bryant tetap memegang satu tujuan utama:
berdakwah untuk agama dan berdikari untuk negeri.
Ia percaya bahwa ilmu pengetahuan harus berjalan bersama nilai spiritual.
Bahwa seorang ilmuwan tidak hanya bertugas menciptakan teknologi, tetapi juga membawa manfaat, harapan, dan cahaya bagi manusia lainnya.
Perjalanan Bryant Andhika Prayoga menjadi bukti bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk menembus dunia.
Selama seseorang mau bertahan, terus belajar, dan menjaga hubungannya dengan Tuhan, maka jalan-jalan besar akan selalu dibukakan.
Hormat kami,
Bryant Andhika Prayoga
IUP Kimia 2021
Hokkaido, Jepang